Cinta Yang Liar ( Part 2 )
- Get link
- X
- Other Apps
Cinta Yang Liar ( Part 2 )
Dalam perjalanan berangkat pun pikiranku terus terbayang-bayang kejadian semalam dan ketakutan.
Ketakutan dengan kata kuburan, kenapa juga namanya kuburan mbok yaho diganti? Lha wong Kuburan band saja sudah ganti nama. Lamunanku terhenti ketika aku sudah sampai di tempat kuliah. Untungnya aku masih bisa mengendarai Revi sampai tempat kuliah.
Woi…… teriak rahman melambaikan tangan, manusia berkulit gelap, yang selalu memotong rambutnya seperti bola sepak alias potong 1 cm dan hidung khas orang Arab-India seperti paruh burung kakak tua. Tinggi kira-kira 178 cm karena memang jika berdekatan denganku hampir sama walau tinggi aku sedikit.
Jangan sekali-kali membandingkan aku dengan rahman karena jika didekatkan akan tampak seperti Zebra Cross, perlu dicatat kulitku lebih putih dari si Rahman (NO SARA-just for imagination).
Sini Ar…….
Oh…. aku kaget mungkin karena banyak pikiran.
Iya……. aku kesana teriakku.
Kuhampiri Rahman dan tos tos tos biasalah tos persahabatan yang memang jarang aku lakukan. Perkuliahan dengan Rahman dimulai jam setengah sembilan, kali ini kuliah 5 SKS. 3 SKS dari jam setengah sembilan sampai jam 12 dan yang kedua 2 SKS dari jam setengah satu sampai jam dua lebih 10 menit.
Aku mengambil tempat duduk paling belakang, tepatnya di belakang teman kuliahku yang memiliku postur yang lebih besar (baca : Gemuk NO SARA-just for imagination) dari aku. Perkuliahan kali ini aku benar-benar tidak konsen dengan apa yang diajarkan oleh dosenku.
Bayanganku masih melayang dengan apa yang terjadi semalam. Putih bersih ah…..lamunanku hingga membuatku otakku menolak semua materi dari dosen. Dua setengah jam telah terlewati, terlampaui dengan berbagai bayang-bayang adegan kotor semalam.
Dosen kok mboseni (membosankan), ya itulah dosenku yang sekarang sedang mengajar, Dosen yang hanya duduk dan membaca buku paket perkuliahan. Seperti orang yang mendongengkan cerita ke anak-anak TK agar lekas tidur.
Ar….mbolos yuk Ar, ane males kuliah jam setengah satu, isinya Cuma ngantuk ngantuk dan ngaaaaaaaaaaaaaaaaaaantuk…. ajak Rahman ketika kita berjalan meninggalkan kelas.
hmm….hoaaaaam….makan dulu lah sebelum bolos, memang mau bolos dimana kang? jawabku sambil merenggangkan kedua tanganku.
ya gak kemana-mana Ar, Cuma stay di warung aja, gimana menurut ente? lanjut Rahman
ayo…Markike (Mari Kita Kemon) ….dah lapar aku kang, tadi pagi Ibu bangun kesiangan jawabku sambil beranjak dari tempat duduk.
Ibu?bangun kesiangan?gara-gara aku membuatnya menangis, melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak aku lakukan. Tapi jika mengingat Ibu tadi pagi, Ibu tampak lebih cantik dari tadi malam, tumben-tumbenan Ibu berdandan seperti tadi pagi.
Pikiran ini terus bergerak ke otak dan berputar-putar terus terus dan terus sepanjang aku berjalan bersama Rahman menuju warung di seberang kampus.
Mbok… Nasi rames ayam goreng dua, es jeruk satu, jeruk adem satu, kasih sambel trasinya bu jangan lupa teriak Rahman ketika memasuki warung. Kami pun memilih bangku yang dekat dengan pintu keluar.
Ora nganggo suwi Mbok, selak meh modar rasane (tidak pakai lama Mbok, hampir mau mati rasanya) teriakku setelah Rahman. Kami langganan di warung si mbok, jad ya sudah biasa kalau kita selalu bercanda di warung.
Koyo-koyo wong sing ora tahu mangan wae to le, yo kosek sedelok (seperti orang yang tidak pernah makan saja to nak, ya tunggu sebentar) jawab Si Mbok Warung. Tempat kami duduk adalah tempat paling nyaman di warung ini, pojok dekat dengan pintu dan sangat privasi. Ya maksudnya tempatnya mojoklah enak dibuat ngobrol.
Ssst….ane punya film bagus, ente mau lihat gak? bisik Rahman
apa kang? jawabku
nih…jangan lupa pake earphone-nya, sebelah aja biar kita tetep bisa ngobrol dia menyerahkan si KW super Korea selatan kepadaku. Langsung aku pasang satu earphone ke telingaku.
File-nya apa kang? tanyaku penasaran dengan film itu.
Rahman kemudian, membukakan file pada smartphonenya yang aku pegang, dan touch….filmpun dimulai. What the fuck?! Its porn film again but i start to love it….uft. Ketika film itu diputar aku melihat ke arah samping kanan, kiri, belakang dan Huft…Aman Jaya Mengudara dan terkendali.
Karena dibelakangku adalah tembok, samping kiriku tembok, samping kananku meja makan kosong. Gila kenapa aku sekarang jadi suka sekalii melihat film porno? Ini yang kedua bagiku, yang kedua ini sangat lain karena? sudahlah. Aku tidak merasa aneh, atau jijik, sekarang yang aku rasakan adalah menontonnya, meresapinya dan melupakannya. Mungkin lebih tepatnya hanya untuk kesenangan saja melihat seperti ini.
Wooi serius amat sich ente…. ntar ane transferin yang banyak ke HP ente…. maaf yo, ane paling suka ngajakin jelek ente ha ha ha ha kata Raman membuyarkan konsentrasiku.
Memang masih pun…………….. ucapku terputus
Ki segone karo ngombene, lek dang dipangan tapi eling piring karo gelase ojo dipangan (ini nasi dan minumannya, segera dimakan, tapi ingat piring dan gelasnya jangan dimakan) tiba-tiba Si Mbok warung meletakan pesanan kami dan memotong perkataanku.
Emange jaran eblek mangan koco mbok (memangnya kuda lumping makan kaca) jawab kami serentak yang diikuti gelak tawa si mbok yang berjalan meninggalkan kami.
Tadi ente mau ngomong apa Ar? tanya Rahman
Memang masih punya banyak Kang Rahman? tanyaku
Huwahahahahahahahahahahah….. Ane kira ente alergi sama hal-hal yang berbau busuk Ternyata…..
Download to Ar Ar, entenya saja yang Bahlul (Bodoh) bin ****** bin dedhel, ga pernah manfaatin internet, makanya browsing…. berselancar di dunia maya ….hahahahahaha …. jawabnya terbahak bahak
Dah makan dulu…. lanjut Rahman
Aku hentikan kegiatanku nonton film itu, kusantap dan kulahap makan nasi rames ibu warung. Jika piringnya bisa aku makan mungkin akan aku makan sekalian he he he. Ah….lezatnya…..bagaimana tidak, tadi pagi aku tidak kemasukan nasi sama sekali. Perut kosong apalagi pikiranku buyar karena Ibuku.
Mana HP ente? kata Rahman memcah konsentrasi makanku
Hini mmmmm kangmmmm… jawbku sambil sambil mengunyah makanan.
Sambil makan kulihat Rahman mengutak-atik smaartphone miliku dan miliknya. Makan makan makan….aku ingin kenyang…. wah ternyata ada lauk cumi osengnya, dipotong-potong kaya cincin.
Wadiyah waduh …Cincin? Ah cincin titipan Ibu…. kenapa aku baru ingat, bagaimana ya? Aku harus beli dimana? Kenapa aku bisa lupa. Cepat aku selesaikan makanku, kemudian kurogoh saku celanaku.
Untung masih ada kataku tiba-tiba
Ni Ar, udah ane transfer, ane simpen di folder yang namanya Semprotku kata Rahman kepadaku
Oia…untung kenapa?? lanjut Rahman kaget aku mendengarnya.
Apa aku harus cerita ke Rahman soal kejadian semalam? Ah tidak, bisa-bisa aku disangka orang Gila, Tapi aku bisa minta tolong ke rahman untuk cari cincin ini bathinku.
Kang, tahu gak cari cincin seperti ini dimana? sambil aku meyerahkan potongan gambar cincin dari Ibuku
Hmmmm…. ni di Toko Gajah Emas ada, tapi model kaya gini bisa nyampe 6 gram Ar, harganya kira-kira…kalo disesuaikan dengan harga emas sekarang ya Ar, ya bisa nyampe 3,5 juta-an lebih Ar jelas Rahman kepadaku
HAH?! WEIDIAN! (Edan) duit opo godong iku Kang (uang apa daun itu kang)? teriaku kaget.
Ha ha ha ha ha emang ente, mau beli? Buat siapa? Pacar ente? tanya Rahman yang masih tertawa sambil memegang perut
Kanggo make kang (Buat Ibu kang), dia pengen cincin seperti gambar ini jawabku pelan
Owalaaaaaaah…. gampang itu
Tenang aja Ar, ane kan pernah punya hutang ama ente, waktu kecelakaan itu ente kan yang bayar uang perawatan di awal ane masuk RS? tanya Rahman
I…iya kang, kok tahu? jawabku
Ya tahulah, punya mulut itu fungsinya buat tanya
Sudah tenang aja Ar, nah sekarang giliran ane bantuin ente Ar….. bentar ane transfer ke rekening ente pake i-bangking, nomor rekening ente masih
sama kan? jelas Rahman
ee….enggak usah kang….. jawabku
Diem aje ente, ane tahu ente sayang banget ma Ibu ente, sekarang giliran ane yang bantu ente, coba aja waktu itu ente gak lewat mana mungkin ane bisa makan bareng ente sekarang kata Rahman sambil ngutak-atik telepon cerdasnya.
Ketemu rekening ente …… guman Rahman mengutak-atik telepon cerdasnya. Ya memang aku dan rahman memang pernah melakukan transfer ke rekening masing-masing, mungkin no.rekeningku masih tersimpan di riwayat transfernya.
Dah masuk Ar…. semoga ente bisa dapetin tuh cincin, dan bisa bikin seneng Ibu ente lanjut Rahman
Makasih kang, bukannya mau ngapa atau gimana lho kang….. baru saja mau ngomong Rahman sudah memotongku perkataanku
Udah Ar, ente sahabat terbaik ane jadi, well wewe gombel, apa yang ane lakukan ini gak sebanding sama pertolongan ente waktu itu, lagipula sudah kewajiban ane ngebalikin uang itu karena itu adalah uang kamu jelas Rahman
Ato kurang? Perlu ane tambahin Ar? Tenang aja uang tambahan ini gak perlu kamu ganti ini masih kurang dengan bantuan yang ente berikan waktu itu lanjut Rahman
Sudah kang sudah, ini sudah lebih dari cukup… jawabku
Mending sekarang kamu ke Toko Emasnya Ar, dari pada nanti tutup nasihat Rahman kepadaku
Setelah perbincangan dengan Rahman di warung itu, kemudian aku bergegas ke pusat kota. Uang yang ditransfer Rahman lumayan banyak 5 juta. Padahal uang yang aku keluarkan untuk biaya rumah sakitnya waktu itu tidak sampai 5 juta.
Tapi tak apalah daripada tidak punya uang buat beli cincin. Kuhentikan Revi si bodi montok di ATM pinggir jalan untuk mengambil uang sebesar 4 juta. Kulihat saldo ATM-ku tersisa sekitar 3 juta. Beruntung aku punya sahabat seperti Rahman selalu melewati suka duka bersama.
Kembali kupacu Revi montokku menuju toko Gajah Emas, Kurang lebih 1800 detik aku sampai di toko emas, tepat jam setengah tiga. Aku serahkan gambar cincin kepada penjaga toko. Penjaga toko memperlihatkan cincin yang sama dengan di gambar. Tinggal satu dan untunglah harganya tidak lebih dari 4 juta serta ukurannya cocok dengan pesanan ibu. Masih sisa 200rb lumayan. Tak lupa aku bungkus cincin itu dengan wadah cincin yang terbuat dari kaca, jadi tidak sisa.
Kuselesaikan semua urusan di toko kembali kupacu Revi, setelah Kurang lebih setengah jam lamanya aku di toko emas itu. Bergegas aku pulang kerumah, coba bayangkan dari rumah ke kampus 1 jam, dari kampus ke toko kurang lebih setengah jam, total perjalanan pulang memakan waktu 90 menit.
Jam setengah lima aku sampai dirumah, kumasukan motorku ke garasi, garasi rumah tak terkunci bahkan tak tertutup mungkin sejak tadi pagi aku berangkat, kemudian kututup gerbang, dan masuk rumah melaui garasi sekalian mengunci pintu garasi.
Sepi sekali, dimana Ibu? Kok wangi banget…. bathinku
Buuu….. dan tak ada jawaban
Kulirik kamar ibu, tapi kelihatannya dikunci. Lebih baik aku mandi, dan segera mandi , istirahat. Rasa lelah perjalanan hari ini begitu meguras tenagaku. Hingga aku terlelap dan tidak ada satupun mimpi yang hinggap di dalam tidurku.
Aku terbangun, kulihat jam dinding kamarku yang tampak buram menunjukan pukul 18.30. kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan bergegas kembali ke dalam kamarku. Kulihat telepon cerdasku berbunyi cicit cicit cuit cit cicit cuit. Kubaca sms yang masuk.
Dari : Ibu tercantik <3
Untuk : Arya
Pakai pakaian yang rapi, Ibu tunggu di bawah nak.
Dari : Arya
Untuk : Ibu tercantik <3
Inggih Bu siap, Mau kundangan ya bu?tunggu sebentar ya bu.
Tak ada balasan sms dari ibu, kupercepat berganti pakaianku. memakai baju rapi, dengan celana kain formal berwarna hitam. Bagian atas aku memakai baju berwana hitam dengan garis-garis vertikal tipis terukir dibajuku. Sambil berganti pakaian tak lupa aku menyulut rokok dunhill mild.
Aku ambil parfum warna hitam bertuliskan kapak. Ku semprotkan ke seluruh tubuh pakaian yang aku kenakan hingga kedalam mulutku. Wangi semerbak toko parfum membalut kegundahanku dan ketakutanku.
Aku turun ke bawah menuju ke bawah, tak lupa kukantongi telepon pintarku dan cincin pesanan Ibu dengan penuh harapan kelakuanku dimaafkan olehnya. Hingga sampai dibawah aku tidak menemukan Ibuku.
Bu….. Arya sudah siap teriakku sambil duduk di kursi ruang keluarga
Ibu di kamar tamu nak, lagi nata kamar, sini sebentar teriak Ibu keras
hah males banget! Masa mau kundangan suruh beres-beres? Sudah wangi lagi bathinku kesal
Kulangkahkan kakiku menuju kamar tamu, kubuka pintu kamar tamu. Dan ………………..
Kleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek………… Deg janntung serasa berhenti berdenyut, semua tempat tampak begitu gelap. Kenapa kamar tamu gelap sekali, dimana Ibu sebenarnya. Klik ….Kunyalakan lampu kamar tamu dan tak kutemukan keberadaan Ibu.
Bu…… Ibu…….
Ibu dimana to?teriaku memanggil Ibu
Di kamar tamu depan nak…. terdengar suara Ibu dari dalam kamar tamu depan
Hadeeeeeeeh, kenapa ini telinga tadi aku dengar Ibu teriak seakan-akan dikamar tamu belakang. Hantu? Hiiiiiii…….Mungkin telingaku yang kurang jelas dalam mendengar. Di rumahku ini ada dua kamar tamu, sebenarnya cuma satu kamar tamu dan yang satunya lagi adalah kamarku sampai umur 12 tahun.
Baru kemudian aku meminta kepada orang tuaku untuk dibangunkan kamar dilantai yang lebih tinggi. Bekas kamarku pun dijadikan kamar tamu, sehingga terdapat dua kamar tamu, kamar tamu depan dan kamar tamu belakang. Ku melangkah ke sumber suara dimana Ibu berada, ketika sampai didepan kamar tamu.
Go go power rangers <melodi> ….Go go power rangers <melodi> …. Go go power rangers …. the mighty morphin power rangers…..bunyi telepon cerdasku berbunyi, kulihat sebuah nama yang tak asing lagi, Rahman.
Bu bentar gih, mau angkat telepon dulu teriakku, tak ada jawaban dari kamar tamu depan, aku melangkah ke ruang tamu.
Tumben kang, Ada apa kang?
MMC punyamu rusak? Hahahahahahahaha…. tenang aja masih kang file-nya, memangnya tidak di simpan di komputer kang?
Kamu format ulang?lupa kamu pindah ke-D (baca Drive D)
Oke oke kang, besok ya aku mau mengantar Ibu kundangan dulu klek… suara telepon cerdasku pertanda aku menutup telepon. Ada-ada saja kang Rahman, format ulang komputer sampai lupa pindahin semua file-file dari Drive C ke Drive yang lain.
Membuat hatiku tertawa terpingkal-pingkal. Dengan masih menahan geli karena ulah kang Rahman yang menangis sambil meneleponku hanya gara-gara file video panas, aku melangkah balik menuju kamar tamu depan. Dan…..
Kamar yang terang tampak beberapa poster Batman, Superman, Robo Cop masih tertempel di dinding kamar ini, kamarku ketika aku masih berusia belia. Susunan kamar masih tampak sama dengan yang dulu, hanya saja kesan anak kecil sudah disulap menjadi kamar untuk orang dewasa. Sinar lampu yang terang berwarna putih membuat seisi kamar ini tampak begitu jelas.
Pandanganku yang semula menelusuri kamar ini tertahan, terhenti pada sebuah pemandangan. Kulihat seorang wanita paruh baya nan Ayu, cantik berpakaian kebaya warna putih, ya dia Ibuku. Wanita dengan tinggi tubuhnya kira-kira 155 cm. Aku bisa memperkirakan tinggi tubuh ibuku karena ketika aku berada disamping Ibu, tinggi Ibu hanya sebatas tengah-tengah leherku.
Pandanganku semakin berkeliling, balutan jarit warna coklat bermotif batik tulis pada bagian bawahnya sangat serasi dengan kebaya putih yang membungkus tubuh wanita. Riasan yang sederhana, tanpa sanggul hanya rambut yang digelung kebelakang hingga membuat leher jenjang indah itu tak tertutup rambut.
Tampak sedikit rambutnya terurai kedepan menutupi sedkit wajah putih cantiknya.
Kulitnya yang putih serasi dengan apa yang dipakai oleh wanita yang berada dihadapanku. Payudara? Jujur saja aku belum bisa memastikan berapa ukurannya karena memang aku belum pernah memegang dan menanyakan kepada Ibuku.
HEI HEI! kenapa pikiranku menjadi mesum seperti ini, tujuanku masuk ke kamar ini kan untuk membereskan kamar tamu membantu Ibu dan menunggu eksekusi amarah dari Ibu.
Wanita dengan wajah sendu itu kemudian berdiri, secara perlahan layaknya adegan slow motion wanita itu mendekat ke arahku. Dengan senyuman nan elok kepadaku, Ibu semakin dekat. Dengan jarak kurang dari 1000 milimeter, Ibu mengulurkan jari manis tangan kirinya. Tampak cahaya di wajahnya yang berbalutkan sinar kebahagiaan dan kasih sayang. Terpancar cinta seorang wanita kepada laki-laki.
Ibu menunggumu terlalu lama
Sudah membeli cincin yang Ibu inginkan? Suara yang lembuuuuuuuut sekali berbeda sekali dari yang pagi meluncur dari bibir indah bergincu tipis berwarna merah jambu.
Aku masih terdiam, melihatnya membuatku masih tertegun dengan apa yag aku lihat. Kecantikan khas dari daerah tempat tinggalku dengan sedikit tambahan kecantikan perpaduan dari negara lain.
Naaaak…. suara lembut itu kembali mengalir dari bibir merah jambu itu.
Ibu…. Ayu banget (cantik sekali) kataku lirih, hanya dibalas dengan senyuman Ibu kepadaku.
Mana? lanjut Ibuku
Kuambil kotak kaca yang berisikan cincin yang diinginkan Ibuku, sama persis dengan gambar yang diberikan kepadaku. Ketika aku mengeluarkan cincin itu, ibu semakin mendekat dan mengulurkan jari manis tangan kirinya kepadaku. Terasa sedikit aroma wangi parfum yang khas dari bunga melati dengan sedikit wangi dari bunga yang lain, entah bunga apa itu.
Coba nak kau pakaikan cincin itu kejari Ibu nak lembut suara itu kembali mengalir, suara yang seakan-akan telah di bubuhi pelembut pakaian.
Mendengar perintah Ibu aku langsung membuka kotak cincin pesanan Ibu. Kuambil dengan kedua jariku. Dengan sedikit gugup dan sisanya adalah sangat gugup, aku kemudian memakaikannya.
Perasaan yang sangat gugup sekali hingga ketika aku memegang tangan itu serasa terpeleset berkali-kali walau pada akhirnya terpasang. Jelas saja, aku tidak pernah melihat Ibu secantik malam ini dan sangat berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
Dan hap, cincin itu terpasang tapi dan dengan amat sangat tiba-tiba kulihat ada air yang keluar dari matanya turun deras seperti terpeleset karena mungkin sangat halusnya pipi Ibu .
Hiks hiks… terima kasih nak ini kado terindah yang pernah Ibu dapatkan sambil memandangku dan memegang pipiku kananku dengan lembut.
Sekarang Ibu menjadi milikmu sekarang…. Ibu akan menjadi wanitamu, dan akan menjadi wanita pertamamu ucap Ibu dengan wajah yang basah karena air matanya
Ibu tahu ini salah, tapi Ibu sudah terlanjur terlalu sayang dengan kamu nak, kamu yang selama ini selalu memberi perhatian lebih kepada Ibu ketika ibu harus sendiri menanggung beban perih di hati Ibu
Ibu telah terjebak, di dalam hal yang tidak seharusnya, tetapi Ibu sudah memutuskan
Kamu selalu berikan apa yang selama ini Ibu idam-idamkan dari seorang laki-laki yang sebelumnya belum pernah Ibu dapatkan dari laki-laki manapun, dan kamu benar-benar memberikan kado yang indah buat Ibu nak
Sekarang …… dan ….selanjutnya Ibu akan selalu bersamamu… asalkan kamu selalu memgang janji kamu untuk selalu menyayangi Ibu…. Ibu milikmu lanjut Ibu dengan air mata yang menetes mengalir di pipinya.
Aku terdiam, aku peluk Ibuku. Kupeluk erat tubuh Ibuku serasa tak ingin melepaskannya.
Bu semalam semestinya Arya tidak melakukannya…. Arya sayang banget sama Ibu ucapku terpotong dengan posisi memeluk Ibuku, melingkarkan kedua tanganku dipinggangnya dan kepala Ibu bersandar tepat di dadaku.
Semua telah terjadi, dan Ibu telah berbuat kesalahan karena menyayangimu berlebihan, melebihi rasa sayang seorang Ibu kepada anaknya, Ibu mohon sayangi Ibu seperti rasa sayang Ibu kepadamu nak potong Ibuku
Semalam ya karena semalam Ibu yakin kamulah laki-laki yang bisa memberi kebahagiaan keapada Ibu lanjut Ibu
Bu bukankah seharusnya Arya, selalu menyayangi Ibu….
Ibu akan ceritakan semuanya asal kamu mau memperlakukan Ibu selayaknya kekasihmu, kasih sayang terhadap seorang wanita, Jika itu kamu benar-benar sayang Ibu, jika tidak segeralah tinggalkan kamar ini potong Ibuku
Aku jatuh cinta ke Ibuku? ya aku memang mencintainya sebagai seorang Ibu, tapi mendengar pernyataan itu, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku…. Aku….. ya aku terlalu sayang Ibu.
Bu…. ucapku.
Kuberanikan menggerakan tanganku, ku angkat dagu Ibuku dengan tangan kananku dan kucium lembut, sangat lembut dan Ibu membalasnya dengan ciuman yang lebih lembut layaknya seorang wanita mencium kekasihnya dengan penuh rasa cinta.
Ibu memejamkan matanya, tapi aku terus membuka mataku untuk selalu menatapnya. Semakin lama kurasakan semakin tak terkendali ciuman antara kami berdua. Aku sudah tidak peduli dengan pintu kamar tamu yang masih terbuka. Aku terus menciumnya dan menciumnya, menyedotnya begitupula dengan Ibu.
Emmmmmmmmmm………. desahan Ibuku mulai kudengar
Air mata itu kembali megalir deras, sangat deras membuat aku tidak tega untuk melanjutkan hal bodoh ini. Kuhentikan ciumanku, kelepaskan bibirku dari bibir Ibu, kutatap Ibuku yang terpejam matanya. Kemudian Ibu membuka matanya yang tergenang oleh air mata secara perlahan.
Kenapa ibu menangis? tanyaku
Air mata ini adalah cinta Ibu ke Romo kamu yang tak pernah terbalas, biar mengalir keluar semuanya nak, Ibu ingin menyayangi kamu seutuhnya, jangan pedulikan air mata ini, ketika air mata ini berhenti, cinta Ibu ke Romo kamu telah habis, dan akan tergantikan olehmu jelas Ibuku dengan suara yang parau
tapi bu, Romo…. jawabku terputus
Sekarang adalah Aku dan kamu ….Milikilah Ibu, Ibu sangat sayang kamu nak potong Ibuku, Romo? Ada apa dengan romo? Masa bodohlah, sekarang ya sekarang antara Ibu ……… dan…….. Aku, Arya.
Arya juga sayang Ibu jawabku sembari menatuhkan bibirku ke bibir Ibu, aku menciumnya kembali
Dedek arya mulai bangun, kakak hoaaaaam, kenapa membangunkan aku? mungkin itu yang akan dikatakan dedek arya kepadaku. Ciumanku berbalas ciumannya, Pagutan berbalas pagutan, hisapan berbalas hisapan. Indah rasanya seakan ini adalah mimpi. Tiba-tiba Ibu melepas ciumannya.
Ibu sayang kamu, Arya ucap Ibuku, dan Aku menjawabnya dengan anggukan.
Jadikan Ibu milikmu nak…… buat Ibu milikmu seutuhnya dan bukan untuk Romomu yang kurang ajar itu……….. sentuh ibu naaak mmm…….. paksa Ibuku dengan nada yang mengeras.
Mendengar ucapan ini seakan-akan membuat aku merasa tersakiti oleh Romo. Ya Ibu pasti merasakan sakit karena Romo. Apa yang sebenarnya terjadi antara ibu dan Romo aku tidak pernah tahu. Tetapi dari ucapan Ibu sangat tersirat rasa benci yang terpendam. Hmmmm…… Kembali kucium Ibuku, kuarahkan kedua tanganku ke arah kebayanya, kurobek kebaya.
Breeet breeeeet breeeet kurobek hingga terlihat kutang ibuku. Kebaya yang Ibu pakai sekarang hanya menutupi lengannya dan menggantung di tangan kanan dan kirinya. Ciuman antara aku dan Ibuku semakin panas, karena nyawa muda yang menggebu-gebu dan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya membuat aku Ibu mendorong hingga rebah di tempat tidur. Posisi pantatnya tepat dipinggir ranjang dengan kaki yang masih terjuntai dilantai. Aku yang berdiri melihat kearah Ibuku, kupandang seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang baru saja aku porak porandakan.
Ayo nak ….. Ibu siap perintah halus ibuku dengan senyumnya seakan-akan memberikan lampu hijau terang benderang agar aku melanjutkan, melanjutkan apa yang harus dilanjutkan.
Aku sedikit merunduk dan menarik ujung jarik Ibu, mengetahui aku akan kesulitan menarik jariknya Ibu mengangkat pinggangnya, dan kutarik jarit itu hingga ke bagian pinggang Ibuku. Tampak pemandangan yangpernah aku lihat dan Aku melihatnya lagi, vagina yang tertutup kain putih berbetuk segitiga.
Kutarik lembut, Ibu memudahkannya dengan sedikit mengangkat pinggang dan kakinya yang jenjang sehingga terlepas sudah celana dalamnya dan terlihatlah apa yang semalam aku masuki. Kusentuh-sentuh dengan jariku, sekejap itu aku mendengar ibu merintih merasakan nikmat.
Dengan cepat aku melepas celanaku beserta celana dalamku sambil tanganku kiriku masih mengelus-elus vagina Ibuku. Toeeeeng eeeeeng eeeeng…. Bebas bebas…. sangkar mana sangkar mana diiiiimanaaaaaaaa mungkin itu yang akan diteriakan oleh dedek Arya, dan akan aku jawab ada didepan, sebentar ya
Bu….. tanyaku sambil kuelus-elus vagina Ibuku, Aku memang belum berpengalaman, semalam kejadian itu aku kesulitan memasukinya. Sekarang aku harus mencobanya seperti adegan film yang pernah aku tonton sebelumnya.
Aku pastikan jalan masuknya dengan jempol dan jari telunjuk tangan kiriku untuk membukanya seperti adega-adegan dalam video. Mungkin pada kejadian awal aku tidak menceritakan secara detail apa yang aku tonton. Maklumlah semalam adalah kejadian yang tergesa-gesa dan pertama kali. Kali ini aku bisa sedikit tenang jadi aku bisa mengingat apa yang aku tonton secara detail.
aaaaahhhhhhh….. nak….. lenguh Ibuku ketika dua jariku mencoba membuka pintu vaginanya.
Setelah aku melihatnya, ku arahkan dedek arya dan kumasukan secara perlahan. Kini posisi kaki Ibu terangkat dan merenggang terbuka. Dan kedua tanganku memegang pinggang Ibuku.
Aduh bu, sakit, sempit sekali…. kenapa tidak bis……sa mass…….suk…… ucapku, terus aku tancapkan dan kudorong dengan menahan rasa sakit. Kudorong dengan paksa tampak vagina ibuku sangan sempit dan keset. Kenapa di film bisa masuk dengan enaknya, kenapa ini malah seret sekali. Dengan usaha maksimal, Optimalku akhirnya dedek Arya hanya masuk setengahnya saja.
Uftttttttttttt…..ahhhhhhhh…… besaaaaaaaaaaaaaar sekaaaaaaalllli……
Sakiiiiit nak pelaaaaaaan…. punyamu keb…..bes….sar….ran ….hufffffttt….. aaaahhh rintih kesakitan ibuku dengan kedua tangannya menahan tubuhku.
Cobalah masukan setengah keluarkan, masukan lagi dan keluarkan nak, terus seperti itu, kalau hingga nyaman, setelah itu dorong sekuat tenaga kamu nak aaaaaisssshh perintah Ibuku dengan nada cepat dan dahi mengrenyit menahan sakit.
Kupegang kedua pinggul Ibu, kulakukan apa yang dikatakan Ibuku, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, dan semakin lama aku melakukannya semakin licin, walau sedikit.
Mula kurasakan kehangatan liang vagina Ibuku hangat sehangat sayangnya kepadaku. Tak pernah aku berpikir akan terjadi tapi ini pengalaman pertamaku. Bagai terkena Tsunami, dedek arya tenggelam di dalamnya.
ufffftttt…..besar seka……li ….. naaaaak ……penuuuuuuuuh rintih kesakitan Ibuku disertai kedua kakinya yang mengapit pinggangku, dan rintihan itu membuat aku menghentikan gaya dorong.
maaf bu, aku baru kedua kalinya, dan semalam adalah yang pertama, haruskah aku hentikan ucapku sedikit menggoda.
tidak nak, tidak ibu suka, ibu suka cepat nak cepat ….ahhhhhhhhhhhhh….terasa penuh naaak lanjut Ibuku
Air matanya semakin deras, semakin basah kedua pipi Ibuku. aku tidak mempedulikannya, aku harus menempatkan cintaku, biar air mata itu semakin keluar banyak, biar semakin Ibu mencintaiku. Ku lanjutkan gaya dorong tubuhku semakin cepat semakin cepat.
Enak sekali nak, Ibu suuuuuuka, punyaaaaamu menyentuh rahim Ibuuuuuuu, setubuhi Ibu nak, setubuhi ibu setubuhi Ibu, jadikan Ibu milikmuuuuuaaaaaaashhhh racaunyaIbuku
Ini untukmu Ibu, punyamu bu ucapku sambil aku menggoyang pinggangku.
ya punya Ibu, Ibu punyamu, milikmu nak….terus nak, terus…. buat Ibu semakin cinta kamu ucap Ibuku
Ya bu pasti, ah ah ah ah ah ah bu aku tresno sliramu bu (aku cinta kamu bu) ucapku sambil kupercepat gaya dorongku.
Ibu juga nak,terus…. Terus nak, enak uftttt….. ah terus……. racau Ibuku.
Teraasa vagina Ibu yang sempit menjadi semakin berlendir. Semakin memudahkan aku untuk memasukan dan mengeluarkan dedek arya. Kulihat wajah Ibu nan ayu dengan kebaya yang porak poranda akibat aku sobek. Payudara ibu masih terbungkus kutangnya, tapi aku bisa melihat susu Ibu seakan-akan hampir muntah kemungkinan karena ukuran kutang yang terlalu sesak.
Pastinya payudara Ibu sangat besar dan menggairahkan. Tapi entah kenapa konsentrasiku saat ini hanya menggoyang dan terus menggoyangnya tanpa mempedulikan bagian tubuh Ibu yang lain. Selang beberapa menit aku menggoyang, tampak Ibuku gerakan Ibu semakin menggila. Semakin lama semakin tubuh Ibu mulai bergoyang semakin tak karuan. Kedua tangannya tampak menggenggam erat kain sprei. Bermenit-menit aku menggoyang hingga akhirnya …..
Ibu mau keluar nak, Ibu meh methu(mau keluar)….. racaunya yang membuat aku heran, kenapa coba lagi asyik-asyiknya malah mau keluar?
Keluar kemana bu? tanyaku keheranan yang membuat pikiranku beralih sehingga gesekan yang terjadi malah tidak membuatku merasakan rangsangan. Jujur aku tidak mengerti maksud Ibuku.
Wis pokoke di goyang terus wae (dah, pokoknya di goyang terus saja) racau Ibuku merasakan sesuatu yang tidak aku rasakan karena mungkin aku tidak berkonsentrasi pada kegiatanku.
Kukembalikan konsentrasi pada peningkatan gaya dorongku, kupercepat goyanganku. Kupindahkan kedua tangaku masing-masing disamping tubuh Ibuku. Kini kedua tanganku menopang tubuhku.
Membuat Ibu semakin menggila karenanya, kuarahkan pandanganku ke Ibu kulihat wajahnya yang cantik tampak sedikit awut-awutan. Menggeleng kekanan dan kekiri, tubuhnya bergetar seakan-akan terkena gempa 10 skala ritcher dan tiba-tiba tubuh ibu melengking…
Ibu keluar….. aaaaaaaaaaaaahhhhhh……… eeeeeeeeehmmmmmmmmmmmmm ibu merasakan seuatu yang membuatnya melemah, tapi aku tidak tahu apa itu karena tidak ada komando dari Ibu aku terus melakukan goyangan terus dan terus. Ibu yang terlihat ingin istirahat Ibu terkejut karena aku masih terus menggoyangnya. Terasa ada cairan yang membasahi dedek Arya tapi aku tidak peduli aku terus mempercepat goyanganku.
aduh nak is….ti……ra…..hat du……lu aaaahhhh….. ah ah eeeeeeeeeh racau Ibu, tapi tak jelas kudengar karena suaranya terlalu lirih, aku tetap menggoyang.
Melihat paras ayunya membuatku semakin menggebu-gebu. Paras ayu nan pasrah membuat aku mendidih jika diteruskan mungkin aku akan menguap. Goyangan demi goyangan, hentakan demi hentakan aku lancarkan kedalam vagina Ibuku.
Hingga aku merasakan sesuatu ingin keluar dari dedek arya, sama seperti yang aku rasakan saat mimpi basah. Kelihatanya aku merasakan apa yang dirasakan laki-laki dalam film itu. Sperma? Ya ini pasti sperma yang akan keluar, seperti kata guru biologiku waktu SMA.
Ibu aku pengen pipis …. aduh ….. akkhhhh…. pipisku hampir keluar bu….. Ibu…. cintaku …… sayangku …..kekasihku….. ooooooohhhhhh racauku dengan suara yang keras
Ke….luar…..kan sa…..ja nak, di… da….lam….. racau Ibu
Semakin cepat aku menggoyang dan….
Aku pipis buuuuu……. Ibuku cintaku….. AKu cinta Ibu kuhjamkan sangat dalam hingga mentok di dalam vagina Ibuku.
Tak trimo tresnomu le (ku terima cintamu le) aaaaaaaaaaaaaah racau Ibuku
Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….
Sepuluh kali aku merasakan sperma itu keluar hingga aku tak kuat menahan beban tubuhku sendiri. Aku Ambruk dan langsung kerabahkan tubuhku di atas tubuh Ibuku yang berbalut kutang. Kupeluk Ibuku dan kuciumi leher Ibuku. Tampak kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu yang kemudian memeluk erat tubuhku. Terasa terbang ke awan-awan putih nan indah. Oooooohh……..
Tubuhku yang masih berbalut baju yang aku pakai tadi, masih tercium parfum kapak dari baju yang aku pakai. Terbujur lemas di atas tubuh Ibu, sedikit aku lirik wajah Ibu yang masih meresapi setiap kenikmatan yang baru saja terlewati. Terakhir kali aku melihat jam dinding pukul 18.30 dan sekarang sudah berubah menjadi 20.00 WIB. Lama sekali mungkin karena awal permainan yang lama.
Bu enak banget bu…. Arya pengen gini terus bu ucapku lirih kepada Ibuku, dengan dedek arya masih tertancap.
Iya sayang, Ibu juga kepengen gini terus sambil mengelus-elus kepalaku
Suka? kalo main mbok yaho jangan asal tusuk, pakai pemanasan to lanjut ibuku
Lha harusnya gimana bu? tanyaku
Ya pakai pemanasan, ya Ibu maklumi masih muda
oia kamu tadi itu aneh sekali waktu ibu bilang keluar kok malah nanya? Apa benar kamu baru pertama kali? kok bisa lama sekali? ucap ibuku sambil membetet hidungku yang membuatku kepalaku terangkat tepat di atas wajah Ibuku
Gih, kalo sampai lemes gini baru malam ini bu, kalo semalam itu masuk hitungan tidak lho bu jawabku dengan suara agak cempreng karena hidungku di betet sama ibuku.
Terus bu, tadi pas ibu bilang mau keluar, Arya ya bingung malah tidak konsen jadinya Arya tidak merasakan apa-apa,bu lanjutku
Kalau Ibu bilang mau keluar, berarti Ibu hampir sampai seperti yang kamu rasakan barusan nak, kalau wanita bisa berkali-kali tergantung sama lakinya kuat tidak, jadi kalau ibu sudah keluar seperti tadi kamu kasih istirahat Ibu sebentar jangan asal goyang to le jelas Ibuku, aku pun hanya tersenyum.
Berarti kamu masih perjaka? tanya Ibuku
Sudah tidak bu, katanya kalau sudah berhubungan dengan wanita, perjaka jadi hilang, dan perjaka Arya buat Ibu ucapku
Terima kasih nak…. ucap Ibu sambil memberikan kecupan.
Ibu akan selalu melayani kamu dan patuh sama kamu, sekarang kamu adalah Lelaki ibu selama Ibu sendirian ucap Ibu sembari mengecup lembut bibir Ibuku kembali
Hmmm…. tapi tadi bisa lama, berarti selanjutnya lebih lama lagi….. lanjut Ibu
Pastinya… buat Ibu, aku pasti bisa ucapku dengan penuh semangat
Tak kulihat lagi air mata Ibuku, yang ada sekarang adalah senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
Bu, Ibu sudah tidak menangis lagi? tanyaku polos
Berarti Ibu sepenuhnya sudah terisi sama kamu nak ucap Ibuku sambil melumat bibirku, akupun tak mau kalah. Kini aku sudah sedikit berpengalaman, kubalas ciuman itu. Ciuman berlangsung beberapa menit yang semakin membakar gairahku.
emmmmmm……. ahhhhh Ibu melepaskan ciuman.
Ketika ciuman itu terlepas, Kutarik dedek Arya, kurebahkan tubuhku disamping kanan Ibuku sambil memjamkan mataku menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ingin aku rasakan kembali. Ibu kemudian mengangkat kepalanya dan di taruh di atas dadaku. Tatapan Ibu tepat menuju dedek Arya.
hmmmm le, manukmu kok isih ngadek ae, opo isih kepingin? (hmmmm nak, burung kamu masih berdiri apa masih kepingin? tanya Ibu kepadaku yang membuat aku membuka mataku dan kuangkat sedikit kepalaku.
Boleh bu? Enak banget bu rasanya…. kata temenku ini yang namanya hubungan intim suami istri ya bu? jawabku polos, tangan kiri Ibu mulai mengelus-elus dedek arya dengan jari-jarinya.
kamu pengin tahu apa yang barusan kita lakukan nak? tanya Ibuku
heem…. jawabku sekadarnya seraya mengelus kepala Ibu bagian belakang.
Ini namanya kenthu (ngentot), kamu pasti sudah tahu, normalnya dilakukan pada malam pertama setelah menikah….. jawab Ibu
Berarti Ibu sekarang jadi wanitaku, karena ini malam pertamaku bu aku memotong perkataan Ibuku
Ibu beranjak duduk, dan memposisikan kepalanya tepat berada di atas wajahku. Kemudian Ibu mengecup bibirku.
Iya nak, Ibu sekarang menjadi wanitamu, Ibu akan selalu siap kapanpun kamu mau, selama Romomu tidak ada nak, jadi kamu harus pinter-pinter belajar biar kuliah kamu cepet lulus dan pinter-pinter belajar nyenengin Ibu juga gih jelas Ibuku sambil memeluku, kini posisi kepala Ibuku tepat di bahu kananku dengan tatapan ke arahku. Aku masih menatap langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu.
Tapi ada syaratnya nak…. ucap Ibuku lirih, akupun menoleh kearah Ibu.
Apa itu bu? jawabku
Kamu masih muda, gairahmu pasti masih besar-besarnya, Ibu tahu kamu memiliki banyak teman perempuan diluar sana na…… jawab Ibu
Ya punya bu, tapi kan bukan pacar potongku
Dengarkan, Ibu akan selalu melayanimu menjadi wanitamu, kekasihmu, tapi Ibu tahu tidak bisa menemani kamu diluar sana
Maka dari itu, yang Ibu harapkan kamu jujur sama Ibu dan menceritakan semuanya secara jelas jika kamu melakukan dengan wanita selain Ibu, Ibu butuh tahu sambil menghela nafas panjang Ibu melanjutkan ucapannya kembali
Kamu tahu apa tujuan Ibu, agar Ibu bisa melayani kamu lebih dari yang diberikan oleh wanita-wanita diluar rumah ini dan juga biar kamu tambah sayang sama Ibu sembari mengecup bahuku.
Apa Ibu tidak cemburu? Nanti Ibu mengira Arya menghianati Ibu, cuma mau mainin Ibu, Arya tidak mau bu jelasku
Bukan begitu nak, Ibu sadar tidak selamanya kita bersama dan kamu harus mecari wanita selain Ibu sebagai pendamping kamu, kalau kamu sama Ibu terus apa kata orang
jika suatu saat kamu menemukan wanita pendamping kamu, kamu masih boleh minta tapi jangan sampai istrimu tahu,….. ada baiknya ketika kamu sudah menikah nanti, kita bisa menghentikan ini semua lanjut Ibuku
Pokoknya kalau Arya kepingin ya Ibu harus mau suaraku agak keras dan parau karena emosi saat ini, dimana aku tidak ingin kehilangan Ibuku.
Iya iya, Asal kamu terus sayang sama Ibumu ini,Ibu selalu ada buat kamu nak jawab Ibuku
Hmmmmm….. nak, Ibu pengen kamu jangan asal nyoblos seperti tadi lanjut Ibuku
Terus gimana bu? Arya kan juga tidak tahu jawabku polos
Sembari mengangkat tubuhnya, kemudian duduk sambil tangan kanannya mengelus-elus dedek Arya.
Ya kamu sinau(belajar) to nak, katanya di enet atau apa itu banyak, biar Ibu juga tambah pinter, tapi kamu yang ngajari Ibu jawab Ibuku, aku teringat akan film yang ditransfer ke smartphoneku, kemudian aku mempunyai Ide.
Bagaimana kalau Ibu sama Arya lihat bareng bu, kelihatannya aku punya film bu ucapku kepada Ibuku yang sedang mengelus-elus dedek Arya. Ibu menoleh kearahku dengan senyuman.
Kamu itu ternyata suka nyimpen-nyimpen film kaya gitu to hardik Ibuku dengan senyuman nakal
Mboten bu, niku kan….(tidak bu itukan…..) pemberiannya Rahman jawabku menghindar
halah…. bilang saja kalau kamu itu pernah bayangin Ibu pas lihat filmnya, ya to? Nyatanya ibu kamu kenthu semalam hi hi hi jawab Ibuku dengan senyuman nakalnya
Jujur bu kalau yang itu aku spontan bu, nyatanya Ibu sekarang juga mau he he he jawabku terkekeh-kekeh
Iya… besar panjang, sangat lebih besar dari yang biasa masuk ke lubang Ibu ditambah lagi ganteng anak ibu ini jawab Ibuku
he he he he…………oia bu, Ibu mau kan kalau nonton bareng Arya tanyaku lagi
Kekasihku, Ibu patuh sama kamu, siap melayani kamu, jadi kamu tinggal ngomong saja ke Ibu, Ibu akan melakukannya, tapi Ibu tidak mau nonton, namanya juga wanita, maunya ya ditata jelas Ibu dengan senyumannya.
Aku brpikir, benar juga apa yang dikatakan Ibuku. ya sudahlah, aku yang nonton nanti ibu yang mengikuti.
Ibu mau bersih-bersih dulu nak, sekalian buatin minuman kamu, sebentar ya sayang ucap ibuku sambil mengecup bibirku.
Ibu kemudian berdiri, akupun mengangkat tubuhku dan duduk sambil memandang Ibuku yang tersenyum kepadaku. Wanita yang terlihat kutangnya dengan kebaya yang sobek menggantung dilengan kanan dan kiri serta jarik yang masih tersingkap hingga pinggangnya.
Aku ingin membukanya bathinku
Ketika ibu mulai melangkah, dua langkah dariku kutarik tangan kiri Ibuku. Aku kemudian berdiri dan memeluk Ibuku. kukecup lehernya bagian kanann[ya.
Aaahhhhh….. nak nanti nak, biarkan ibu bersih-bersih dulu
Bu… aku ingin ….ingin melihat Ibu seutuhnya untukku jawabku.
Ibu memandangku kemudian mengelus pipiku kananku dengan tangan kanannya.
heem…. ucap Ibuku dengan senyumannya
Dari belakang Ibuku Kulepaskan kebaya yang telah sobek sebelumnya itu, kucoba merobek kutang ibuku. Tapi apa dayaku, kutang pakaian daerah ini terlalu tebal, terlalu sulit untuk dirobek. Aku yang sempat berhenti dan kebingungan dengan posisi tangan masih mencoba merobek kutang Ibuku.
Aku menoleh ke kiri hanya ada tempat tidur. Ketika aku menoleh kekanan ada gunting diatas meja, gunting besi besar, aku meraihnya setelah aku dapatkan ku gunting semua kutang Ibuku dari belakang, kutarik dan kugunting gunting lagi. Kemudian kendit yang dipakai Ibuku aku juga mengguntingnya.
Hingga jarik yang masih tersingkap itupun ikut terpotong. Sakit tanganku? Jelas iya… itu kain yang tebal. Hingga akhirnya semua terlepas dari Ibu. Aku letakan gunting itu di meja kembali.
Bu berbaliklah…. kataku sembari meletakan gunting itu dimeja lagi.
Ibu berbalik, dan aku terpana. Wanita dengan kulit putih, wajah yang sendu, rambut yang disanggul dan sedikit acak-acakan di hiasi senyum yang indah.
Kedua susu besar yang masih terangkat ke atas berada di dada Ibuku. Tubunhya langsing sangat pas, sehingga jika dilihat susu Ibuku tampak besar.
Bersambung….
- Get link
- X
- Other Apps