Bagian 5: Temukan Kebenaran 2

Bagian 5: Temukan Kebenaran 2 “Ab, tunggu aku!!” “Pelan-pelan saja memutar” "Hei, Surga!! Apa yang kau kenakan?" Semua pandang ke arahku. Aku tersenyum, menurunkan kacamata hitamku. Tameem menenangkan “Kita tidak sedang bermain mata-mata Heaven” “Oww, gaya itu cocok untukmu!!” Daisy memberi dua jempolnya untukku. “Dasar bocah-bocah aneh” Ab bersinar. Setelah sekitar sepuluh menit berjalan mengendap-ngendap kami sampai di pintu belakang gudang, menunduk bersembunyi di balik drum besar. 'Untuk apa drum besar di gudang tekstil?' batinku. “Semuanya ikut Arah ku, aku akan masuk lebih awal, kalian alihkan mode nada dering kalian ke mode getar, jika ku rasa aman akan ku telfon kalian, oke?” Tameem memberi Arah dan berjalan duluan menuju pintu masuk, ia sangat mahir untuk hal-hal seperti ini. Lima belas menit kemudian hape kami bergetar, tanda keadaan aman, kami masuk lewat jalan yang tadi Tameem lewati, mengikuti Arah yang ia kirim via chat. “Ah, ini sangat seru” Aku mendeng...

Roro Inten ( Part 9 )

 Roro Inten Part 9


( Bagian Ke 8)


Sosok itu melesat menembus kegelapan malam di tengah hujan deras.


Meluncur dari arah Desa Lohgender menuju perbukitan Alastua yang berjarak cukup jauh kurang lebih 3 jam perjalanan darat.


Sosok itu berlari demikian cepat seolah tidak menjejak bumi laiknya terbang.


Ajaibnya, hanya dalam waktu kurang dari 10 menit berlari sosok itu sudah mencapai sepertiga waktu normal laju kendaraan.


Berarti hanya butuh waktu 20 menit lagi ia sampai di tujuannya, Perbukitan Alastua.

Sungguh mencengangkan.


Empat buah kakinya sesekali melompat jauh dan tinggi menghindari lubang dan pepohonan yang rimbun di depannya.


Hujan yang masih turun dengan cukup deras tak luput membasahi kulitnya yang berbulu hitam dan pekat.


Moncongnya yang panjang tampak mendengus sesekali menampakkan uap dingin yang mengepul dari hidungnya yang berair.


Setelah beberapa lama mendadak ia menghentikan laju larinya di tengah sebuah hamparan tegalan dan persawahan.


Ia terdiam sejenak lalu mengangkat kepalanya ke atas.


Moncongnya mendengus beberapa kali sambil hidungnya kembang kempis. Sepertinya ia mencium sesuatu.


Sebentar ia lalu menoleh ke arah langit sebelah timur. Lagi-lagi seperti ada yang ditunggunya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya yang dinantinya telah tiba.


Tidak salah dugaannya.


Sesaat kemudian di atas langit sebelah timur sekonyong-konyong muncul seberkas sinar kemerahan melesat sambil mengeluarkan suara dengungan.


Sinar merah itu melesat cepat menuju ke arahnya !


Begitu melihat tamu yang ditunggunya telah tiba, sosok hitam berkaki empat itupun seketika bersiap menyambut datangnya sang tetamu.


Sepasang bola matanya yang memancarkan sinar kehijauan menatap tajam ke arah bola bersinar kemerahan itu yang semakin deras melesat menuju ke arahnya.


Samar terlihat olehnya di balik bola bersinar kemerahan itu sebuah benda seperti Cundrik.

Cundrik itu tampak membara seakan terpanggang diselubungi api yang menyelimutinya.


Api itulah yang membawa cahaya merah bersamaan dengan kedatangannya.


Sosok itu sontak menyeringai lebar memperlihatkan barisan giginya yang tajam bak gergaji.


Keempat kakinya menjejak tanah dalam posisi siaga seakan hendak menerkam.


Geraham keras lalu terdengar nyaring dari mulutnya yang terbuka lebar.


Ia tahu betul tamu yang mengunjunginya saat ini bukan untuk mengajaknya makan minum dan bercanda melainkan karena tamu yang datang itu menebarkan aura yang sangat lain…….aura maut..!!!


"

Popular posts from this blog

Bokong Besar Mamaku Yang Menyejukan Jiwa ( Chapter 12 End )

Tetangga Kontrakan STW

Lendir Pesantren ( Part 3 )